Syair Cinta

Ketika kau tak mampu temukan kata yang tepat…

Syair Terakhir

Kekasih, andai rembulan malam lusa
Mampu menoktahkan bias-bias sinar di keningmu,
Akan kukerahkan penglihatanku untuk menatap
Isi matamu dan menerawang setiap lantunmu.

Rasanya bibirku kaku untuk sekedar menimang kata
Dan menembangkan syair-syair rayuan di telingamu.
Apakah kata-kata yang kurunut ini terlalu lugas,
Ataukah hatiku terlalu beku untuk mencairkan kharismamu?

Di sisi peraduanku, terselipkan selimut luka,
Dimana kau selalu mengambil dan merendam basuh
Lalu kembali menutupkan lembut di atas rasa.
Namun selalu saja kuterehkan luka kedua….

Dengan santun, kau berkata,
“Luapkan saja luka demi luka,
Aku akan selalu membasuh dan membasuhnya…”

Saat hujan meleleh dimataku
Kau tegas berujar,
“Air itu adalah aku,
Biar mengalir dan basuh wajah risaumu.”

Kekasih, enam bintang begitu lampau.
Masih ingatkah pijaran pertama di mataku?
Tarian kilaunya masih sama,
Bahkan pijarnya s’makin membara.

Andai seuntai bunga adalah purnama
Akan kukalungkan rangkaian kisah
Pada tiap titik di bintang ketujuh
S’bab kuyakin kau lah Sang Pengasuh

Kekasih, lagu lama adalah terindah.
Sebagaimana cinta pertama dan mutakhir
Mengiang riang sebagai nada pembuncah
Bahkan saat jiwa ini hendak berakhir.

Senyummu masih terpampang di wajah lelahmu
Menyanding duduk di samping pembaringanku

“Syair apalagi yang bisa kurangkai untukmu?
Tak cukup kata dan waktu menggambarkan indahmu…,”
Keluhku…

“Syair-syairmu adalah permata
Walau hanya satu kata.
Bahkan hembus nafasmu adalah Sang Pujangga…,”
Bisikmu di sela telinga kananku…

Mataku sayu.. berat.
Bibirku merapat.
Gelap.

© Azmi. Solo, 24 Juli 2013. 20.42 WIB.

Syair, puisi, kata mutiara, atau cerita cinta lainnya:

Posted under: Cinta Sejati, Puisi Cinta, Romantic Love